Feb 16, 2015

Mengapa suatu teknologi dominan?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang selalu bikin saya penasaran. Kenapa iPhone bisa booming pada zamannya? Kenapa Chrome bisa jadi browser terpopuler saat ini? Dan banyak "kenapa" lainnya. Well, secara umum mungkin argumen kita adalah karena fungsi produknya cocok dengan kebutuhan user, karena desainnya eksotis, atau karena produsennya adalah perusahaan ternama.

Alasan di atas banyak betulnya lho. Tapi tetap aja saya penasaran gimana sebenarnya faktor-faktor ini saling terhubung dan akhirnya menghasilkan suatu produk yang sukses di pasaran. Setelah kuliah 6 bulan disini, saya dapat cukup banyak perspektif dari berbagai mata kuliah yang perlahan bisa menjawab pertanyaan saya. Saya mau coba sharing disini hasil sintesis dari pemikiran saya, semoga bisa jadi info juga buat teman-teman yang sama-sama penasaran. Bagan ini saya susun dari berbagai sumber literatur dan pastinya masih bisa berkembang. Penjelasan bagannya saya coba buat dengan sesingkat mungkin supaya nggak boring :)



Ketika PT. X ingin meluncurkan teknologi baru ke pasaran, ada 7 faktor yang perlu dipersiapkan termasuk produk itu sendiri agar nantinya produk ini tidak "mati sebelum terkenal". Apa sajakah faktor-faktor itu?

1. Produk = Content is the king. Pastinya keunggulan produk adalah kunci utama. Produk dirancang sesuai kebutuhan pasar, sesuai values yang diidamkan konsumen (keamanan, keindahan desain, dll), dan akan lebih baik lagi jika produknya adalah Radical Innovation, yaitu inovasi yang benar-benar berbeda dari teknologi yang sudah ada (lawannya adalah Incremental Innovation yang mana hanya melakukan feature enhancement). Paten juga sangan ditekankan disini sebagai proteksi bagi investasi R&D besar yang sudah ditanamkan.

2. Dana = R&D tentunya membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Dana yang cukup juga diperlukan untuk mempekerjakan pekerja yang terampil, membiayai pemasaran, produksi, dan distribusi skala besar.

3. Pemasaran = Selain promosi yang agresif, branding dari produk dan perusahaan yang bersangkutan juga perlu menjadi fokus agar menarik bagi konsumen. Bukan hanya dari segi visual, reputasi perusahaan juga perlu menjadi perhatian untuk mendapatkan kepercayaan konsumen, karena akan menjadi penentu apakah mereka akan "menginvestasikan" uang mereka pada produk PT. X.

4. Price per Performance Ratio = Teknologi yang dijual kemungkinan besar akan terbeli juga apabila harga yang PT. X tetapkan sebanding dengan fitur dan kinerja yang ditawarkan. Pada kasus Segway, manfaat yang didapatkan bagi konsumen mungkin tidak sebanding dengan harga $3,000 ke atas yang ditawarkan. Kurang cepat, kurang stabil, dan kurang proteksi.

5. Timing of Entry = Yang juga penting adalah memperhatikan waktu launching yang tepat bergantung pada lokasi. Apakah menjual mobil listrik di Indonesia sekarang akan sukses ketika belum banyak stasiun isi ulang listrik?

6. Compatibility = Apakah laptop yang tidak memiliki akses ke internet akan banyak terjual di saat ini? Tentunya kompatibilitas dengan teknologi yang sudah dimiliki atau biasa digunakan oleh calon konsumen juga perlu menjadi pertimbangan.

7. Partner = Awalnya TV berwarna mengalami kesulitan dalam pemasaran di Amerika pada tahun 1940an. Konsumen merasa dengan TV hitam putih pun mereka sudah bisa mendapatkan berita yang cukup. Jadi mengapa mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli TV baru? Sebuah perusahaan manufaktur TV berwarna berinisiatif untuk berkolaborasi dengan TV broadcasters dalam menayangkan tayangan berwarna, termasuk dengan Walt Disney dalam menayangkan "Walt Disney's Wonderful World of Color".

Memasuki pasar, perusahaan X sebaiknya terlebih dulu menjangkau kalangan Innovators dan Early Adopters dari Technology Adoption Curve. Mengapa?
1. Mereka cenderung risk-taker, sehingga lebih tolerir terhadap bug/flaw. Mereka juga appreciate terhadap harga premium asalkan bisa menjadi pemilik pertama dari teknologi baru. Beberapa dari mereka akan dengan senang hati memberikan feedback bagi teknologi baru.
2. Kalangan Early Majority & Late Majority cenderung risk-averse, mereka baru akan mengadopsi teknologi baru setelah terbukti baik oleh 2 kalangan sebelumnya.
2. Innovators dan Early Adopters cenderung influential, sehingga produk yang digunakan oleh mereka akan terkesan cool bagi kalangan lainnya.

Teknologi yang di-launch juga akan lebih lama bertahan di pasaran apabila dapat membuat standarisasi. Hal ini dapat memperbesar switching cost konsumen, sehingga mereka akan berpikir panjang apabila akan beralih ke produk lain. Pada kasus Browsers Wars, switching cost untuk berpindah dari Netscape ke Internet Explorer lalu ke Firefox dan lalu ke Chrome mungkin dianggap tidak terlalu besar oleh user, sehingga mereka tidak perlu berpikir dua kali untuk mencoba produk baru. Ketika mereka sudah terbiasa dengan standar yang PT. X tetapkan, mereka akan cenderung loyal karena "malas" mempelajari produk lain.

Selanjutnya, apabila teknologi PT. X diterima dengan baik di pasaran, Positive Feedbacks atau Increasing Returns akan tercipta, yaitu kondisi dimana nilai suatu teknologi akan bertambah seiring banyaknya user yang mengadopsi teknologi tersebut. Hal ini dapat terjadi karena:
1. Adanya Information Effect, yaitu kondisi dimana seseorang terdorong membeli (contohnya) iPad karena merk tablet yang dimiliki rekannya adalah iPad, bukan merk lainnya.
2. Adanya Network Externalities, yaitu kondisi dimana jaringan antar user tercipta karena adanya interaksi di antara mereka. Contohnya forum yang membahas permasalahan dan solusi device, sehingga user baru akan merasa "punya teman berbagi" ketika membeli produk PT. X.
3. Adanya Complementary Goods, yaitu produk-produk komplementer seperti aplikasi, aksesoris, dan gerai service yang bermunculan. Fenomena ini dapat menambah nilai tambah bagi pengguna dan calon pembeli teknologi PT. X.

Hilir dari positive feedbacks tentunya adalah jumlah pengguna (Installed Base of Users) dan hasil penjualan. Semakin banyak produk yang terjual, PT. X akan mendapatkan keuntungan ekonomis dari Returns to Scale atau Economic of Scale, yaitu kondisi dimana fixed cost semakin kecil seiring dengan besarnya volume produksi sehingga profit semakin besar (dengan price yang tetap). Keuntungan ini tentunya dapat dimanfaatkan oleh PT. X untuk:
1. Investasi R&D untuk inovasi berkelanjutan (dan investasi lainnya seperti human capital)
2. Meningkatkan kapasitas produksi
3. Menyediakan produk dengan harga yang lebih murah

2 poin terbawah dapat dijadikan "senjata" untuk menarget pangsa pasar selanjutnya, yaitu Early Majority dan Late Majority yang mendominasi populasi user. Bigger market means more quantity, more distribution, more service and so on... sehingga penting bagi PT. X untuk memiliki cukup dana agar dapat melayani demand dari mainstream market ini. Selanjutnya proses yang sama (positive feedback) juga akan terjadi pada segmen ini jika produk diterima dengan baik di pasaran. PT. X dapat memilih beachhead yang sekiranya dapat menjadi pemicu booming-nya teknologi mereka di mainstream market, contohnya eksekutif muda usia 25-35 di kota besar.

Finally, ketika teknologi PT. X telah mendominasi lebih dari 50% market share di industri terkait, maka dapat dikatakan bahwa teknologi ini telah memasuki fase Lock In. Teknologi PT. X lah yang paling mendominasi preferensi masyarakat. Namun tentunya PT. X tidak boleh terlena dengan "kemenangan" ini, karena kompetitor baik incumbent maupun new comer mungkin saja mengimitasi strategi PT. X dan bisa menghasilkan produk yang lebih baik atau lebih terjangkau. Innovate or die ;)

Analisis ini mungkin lebih condong ke produk dibanding ke layanan. Semoga bisa menyusul ya untuk skema di bisnis layanan. Semoga bermanfaat!

Oct 12, 2014

5 Temuan dari 50 Hari Pertama di Belanda

Akhirnya 50 hari sudah saya di Belanda. Kenapa 50 hari? Karena 30 hari terlalu pendek dan 100 hari takutnya sudah ngga sempet nulis blog huehe. Overall 50 hari ini saya telah bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara, dan berkunjung ke beberapa kota di Belanda. Saya sendiri tinggal di sebuah student housing di kota Delft karena mengambil kuliah Master di TU Delft dengan jurusan Management of Technology. Pada postingan ini saya mau me-highlight 5 temuan menarik yang saya dapatkan dari 50 hari kehidupan di Belanda dari hasil stalking yang mendalam, yang saya ngga temui di Indonesia. So here they are..

1. Orang Belanda itu #Efisien


Ini adalah image yang paling membekas buat saya, sampai-sampai saya suka pikir "mungkin kalau Indonesia ngga punya 250 juta penduduk akan jadi kaya gini kali ya". Dengan jumlah penduduk yang hanya 7% dari Indonesia, tentunya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) produktif di Belanda juga tergolong tidak banyak. Faktor ini membuat mereka smart dalam mensiasati segala kegiatan operasional sehingga tidak mengurangi keterselesaian dan kualitas aktivitas yang dilakukan. Contohnya, di salah satu supermarket, ketika kita membeli buah dan sayuran kiloan, kita harus menimbang sendiri dengan timbangan yang mereka sediakan, lalu mencetak harganya dengan program sederhana yang embedded ke timbangan tersebut. Menurut saya interface-nya cukup intuitif, jadi bisa mudah dipahami oleh orang dari berbagai usia dan negara. Jadi ngga ada tuh mbak-mbak atau mas-mas yang nimbangin dan nempelin harga.


Next..konsumen bisa men-scanning sendiri barcode dari produk yang mereka beli, sehingga tinggal menyetor scanner yang sudah penuh list barang belanja ke kasir. Avoiding kassa line!

Step-by-step self-scanning (sumber: jumbosupermarket.nl)
Nah, di supermarket lain malah ada yang lebih ekstrim. Setelah semua item kita scan, pembayaran dilakukan dengan mengembalikan scanner ke dock-nya, dan semua daftar belanja kita otomatis ditransfer ke kasir.....yang hanya terdiri dari sebuah komputer. Komputer ini akan menerima pembayaran kita baik dengan cash maupun card.

"Mbak-mbak" kasir (sumber : http://whatthedutch.wordpress.com/)
Sistem self-service seperti di atas banyak dapat ditemukan di Belanda, contohnya seperti parking-meter untuk pembayaran ongkos parkir mobil, penggunaan printer/fotocopy machine berbayar di kampus, sistem peminjaman/pengembalian buku di perpustakaan (at least di kampus saya), dan tak lupa vending machine untuk pembelian snack bar, rokok, dan hot meal seperti hamburger/kroket/chicken nugget.

Self-service hot meal (sumber: thedishh.com)
Ada juga yang tetap mendayagunakan SDM, namun tetap dioptimalkan kerjanya. Misal, di beberapa supermarket, kasir juga merangkap melakukan bersih-bersih toko. Ada juga restoran yang pelayannya kemana-mana membawa semacam smart device merangkap EDC, jadi ketika mencatat, meneruskan pesanan ke dapur, dan memproses pembayaran semuanya bisa ia lakukan tanpa perlu banyak jalan kesana kemari. Sooo efficient!

Efisiensi lain yang sangat terasa juga adalah penggunaan "Blackboard", yang merupakan suatu sistem informasi (SI) terpusat di TU Delft sebagai media informasi tentang hal akademik maupun non-akademik, komunikasi dengan dosen, dan pengurusan nilai-nilai. Di kampus saya terdahulu di ITB, kita memang juga mengenal beberapa jenis SI seperti webmail, ol.akademik.itb.ac.id, dan blended learning; namun menurut saya penggunaan ketiganya belum optimal dan terintegrasi. Sebenarnya hawa-hawa efisiensi ini sudah mulai "tercium" semenjak saya mendaftar ke TU Delft, dimana mekanisme pendaftaran terbilang cukup praktis, dengan meng-upload semua berkas melalui satu gerbang pendaftaran dan baru kemudian mengirim hardcopy-nya. Setelah tiba disini proses daftar ulangnya juga sangat efisien, karena semua registrasi yang berhubungan dengan universitas, kewarganegaraan (izin tinggal), akomodasi, beasiswa, dan pembuatan akun bank dilakukan dalam 1 tempat sajah dalam waktu yang tidak sampai 30 menit! How efficient!

(kira-kira udah berapa kali saya nulis kata 'efisien' disini?)

2. Orang Belanda itu #Mandiri


Temuan kedua ini tampaknya juga ada efek dari jumlah penduduk. Karena penduduknya sedikit dan (yang saya tahu) ada penduduk yang biaya hidupnya didukung pemerintah,  maka unskilled labor seperti Pembantu Rumah Tangga (PRT) juga sangat langka (atau malah ngga ada?). Akibat (positif)nya, orang Belanda jadi mandiri sejak kecil sampai lanjut usia. Manula disini belanja sendiri lho ke supermarket, tentunya dengan kendaraan spesial seperti ini:


Siapapun bisa belanja kemanapun dengan alat ini (sumber: gazette.net)
Seru banget ya. Mereka jadi ngga perlu capek jalan dan membawa belanjaan. Untung saya masih tau diri pake sepeda dan bawa kantong belanja :P nah tentang kantong belanja juga, disini bayar lho, sekitar 0.5 - 1 Euro. Lumayan kan bisa buat beli candy bar atau es krim. Saya belum cari tahu sih apa ini kebijakan pemerintah untuk mendukung campaign ramah lingkungan atau gimana, tapi kalau dipikir memang buat apa koleksi kantong kresek banyak-banyak, kalo koleksi duit sih ngga papa ya. Jadi kembali kita dituntut untuk mandiri membawa kantong belanja ketika akan bepergian.....dan membawa botol minum! Karena air mineral harganya paling murah 1 Euro, ngga seperti di Indonesia yang harganya 1/10-nya. Bawa botolnya aja juga bukan jaminan ketemu water tap di semua tempat, jadi pastikan bawa yang sudah penuh ya :)

Hal lain yang harus mandiri pastinya adalah.....masak! Mungkin karena disini ngga ada PRT, makanannya serba praktis seperti sandwich dkk. Bahkan di supermarket banyak dijual makanan 1/2 jadi yang tinggal di-microwave saja. Nah masalah akan timbul buat orang asli Indonesia seperti saya yang lidahnya sudah biasa sama yang asin-asin dan pedes-pedes. Jadilah awalnya terpaksa masak, tapi lama-lama malah ketagihan deh. Untung Ibu saya yang super jago masak sudah menurunkan beberapa ilmunya sebelum saya berangkat. Nantikan blogpost tentang makanan-makanan sederhana karya saya ya huehe.

Untuk cuci baju di apartment saya menggunakan mesin cuci bersama, tapi harus disetrika sendiri, tidak seperti di Bandung yang banyak menjual jasa cuci+setrika Rp 7000 saja per kilo (hiks). Fyi orang disini sangat concern dengan kebersihan, jadi segala fasilitas publik yang ada di apartment juga diwanti-wanti supaya selalu bersih. Saking harus mandirinya jaga kebersihan, sampai-sampai waktu saya eksursi bersama teman-teman sejurusan di luar kota, aula tempat makan harus kita bereskan sendiri juga baik habis sarapan, makan siang, dan makan malam. Saya ngga kebayang kalau sistem seperti ini diterapkan di Indonesia masih profit ngga ya penginapannya :))

#3 Orang Belanda itu #Disiplin


Kalau poin yang satu ini pasti sering disebut oleh orang yang baru tiba di Belanda seperti saya. Jadwal armada transportasi publik seperti bis, trem, dan kereta sangat teratur dan on-time. Ini tidak sulit diterapkan di Belanda karena jalanannya tidak banyak macet seperti di Jakarta. Enaknya lagi, kartu pembayarannya cukup 1 bernama "OV Chipkaart" untuk semua tipe armada. Kalau di Jakarta terakhir yang saya tahu kartu Commuter Line tidak bisa digunakan untuk Busway dan sebaliknya, kalaupun ada itu adalah edaran dari bank yang mana macam-macam bank produsernya. Armadanya juga tidak ada yang "ngetem" seperti angkot atau "on call" seperti ojek. Jadi kalau di Indonesia angkot yang menunggu kita, disini kita yang menunggu bis/trem/kereta. Kalau mau fleksibel tentunya naik sepeda untuk jarak tempuh yang tidak jauh.


Hal kedua yang melatih disiplin disini adalah jadwal kuliah yang on-time. Dosen sudah datang 5-10 menit sebelum kuliah dimulai dan selesai tepat pada waktunya. Dosen yang tidak bisa datang akan memberi pengumuman via Blackboard. Terkait kuliah, disini diterapkan sistem triwulan instead of semester, sehingga bisa dibilang load-nya sangat padat, bisa 16 bab dipelajari hanya dalam 6 pertemuan! Mau tidak mau kita harus disiplin dengan waktu belajar kita. Time management sangat diasah disini!

#4 Orang Belanda itu #Seimbang
Maksudnya adalah work-life balance. Meskipun kuliahnya terlihat padat, tapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk aktivitas hiburan seperti party atau sekedar minum dan hangout di bar. Seimbang lainnya adalah saat kuliah, dimana peraturan disini setiap 45 menit (1 jam pelajaran) harus ada break 15 menit. Awalnya saya merasa ini peraturan yang aneh, tapi lama-lama saya merasa lebih enak dengan cara seperti ini supaya kuliah tidak terasa membosankan. Bahkan kabarnya, bukan hanya kuliah yang ada break-nya, tapi juga di tempat kerja, dan....bioskop!

#5 Orang Belanda itu Just Like Us!
Meskipun mereka lebih straightforward atau to the point ketika mengutarakan pendapat, tapi aslinya mereka ramah-ramah dan sangat helpful (just like us! :D). Dan untungnya berkuliah di Belanda memang adalah sekitar 70% penduduknya bisa berbahasa Inggris dengan baik, jadi tidak sulit untuk berkomunikasi dengan mereka. Beberapa dari mereka fasih dengan makanan-makanan seperti "nasi goreng", "sate ayam", dan "gado-gado"; juga salam-salam seperti "selamat pagi", dll.

Selain temuan umum di atas, saya juga punya komentar tambahan untuk kampus saya, TU Delft. Saya akui kampusnya lebih besar dari ITB (jelas) dan fasilitasnya sangat lengkap untuk mendukung proses belajar. Saya harap perpustakan ITB bisa terus di-improve supaya anak-anaknya gemar ke perpustakaan seperti disini :")

Tampak luar TU Delft Library, salah satu perpustakaan terbaik di Eropa (sumber: TU Delft Library's Flickr)

Tampak dalam; bagian self-service peminjaman/pengembalian buku (sumber: TU Delft Library's Flickr)
Yang menarik juga disini gaya berpakaiannya cenderung sangat kasual, tidak terkecuali dosen-dosennya. Pembawaan rektornya sewaktu penyambutan mahasiswa baru juga sangat kasual, tetap berwibawa dengan sisipan humor.

Nah terakhir sebelum post ini selesai..sedikit tips untuk yang mau bersekolah disini:

  • Cuaca : Waspadai angin yang super kencang dan dingin.
  • Toilet : Harus membiasakan dengan konsep toilet kering.
  • Kultur : Jangan kaget dengan tipe-tipe mahasiswa internasional yang akan kamu temui. Kita bisa belajar banyak dari mereka lho (bukan hanya Dutch students).
  • Di kelas : Usahakan duduk di depan. Bukan supaya keliatan rajin atau ambisius, tapi karena orang Belanda itu tinggi-tinggi banget, bisa-bisa kita ngga bisa lihat papan tulis kalo kehalangan mereka.
  • Ibadah : Khusus untuk muslim, harus banget sih download apps penanda waktu sholat dan kiblatnya. Ini karena waktu sholat disini berubahnya dinamis sekali dan tidak semudah di Indonesia dalam mencari tempat sholat.

Hufff panjang juga ya ceritanya padahal baru 50 hari. Semoga Anda yang membaca enjoy dan bermanfaat ya :-)

Cheers,
Adiska

Oct 8, 2014

[Recipe] Simple Fruit Pancake


I'd like to start a new blog archive for recipes :-) Cooking becomes my hobby recently, and although I'm not an expert kitchener, I like to do experiments with recipes. Well, not all dishes end up with success, but most of them score nice compliments from my hubby! (I hope he meant it :-D)

For starter...i'll start with my favorite type of dish : Dessert. Just a short one.. if you :
-are a student living abroad / far from home
-have limited time to cook
-have limited items in your fridge
-have limited budget
-are craving for sweet dessert

then you may decide to make a pancake. Simply buy the pancake flour, if possible the all-in-one version, so that you are not required to add more milk, sugar, and/or eggs. I personally like to add a pinch of sugar just to add sweet taste into the pancake mixture. Then, put it on a plate and arrange the toppings as follows:
-strawberry
-banana
-chocolate chips/chocolate paste/chocolate sauce
-peanut butter
-whipped cream
-maple sauce

Of course you can use other kind of toppings based on your preferences. But I suggest those toppings due to their versatility, so that you can use the same items for other purposes like making smoothies, bread, beverages, and so on and so forth.

For the pancake arrangement, I have several examples for you :-)

Classic one : The stacked pancakes

Wider one : (almost) a crepe

Pancake sandwich, my favorite!

Happy cooking!

Oct 3, 2014

[DIY] Wedding Invitation

Designing invitation is one of the most exciting part of a wedding preparation (at least for me). I'd like to share 3 invitations I made in welcoming my Big Day. Hope it could give you some inspirations!

#1 The Engagement



#2 The Wedding Ceremony
In addition to the printed invitation, I also created the digital invitation for friends only, so it could be distributed easily through instant messaging. The funny thing was...we had two versions of digital invitations :)) for a silly reason, because I insisted in using the 1st version, but Bagas resisted because he thought the design was too girly (which I admitted :p). But...I was in love too deeply with the flower vectors I found, so then we managed to have 2 versions. His version well of course, more masculine with the blue background.

1st Version

2nd Version

And.. I also made website invitation for two colleagues, using Wix.com. It was easy and handy!



Tips : Don't overreact with small stuffs several days before your wedding day! They will absolutely come, and we will definitely (should) be relax!! ;)

[DIY] Exhibition Kit

When you get invitation or opportunity to hold an exhibition of your products, what kind of properties will you prepare? Aside from the key stuffs such as Poster, X-Banner, Brochure, and Name Card, there are other (simple) things that you can set up. Here they are.

#1 Mini X-Banner and Sticker
Limited space for your stand? Rather than force the X-Banner to have a diet, you can make use of Mini X-Banner. It's way more cheaper and lighter to carry.

Poster, mini x-banner, and stickers for INAICTA 2013

Next one is sticker. It can be good a substitute of brochure, since people tend to stick it on any kind of surface. Make sure you make an eye-catchy one!

Create various types of stickers so that people can choose based on their preference. It adds the sense of belongings for the visitors!


#2 Plastic Armband


Having extra time to prepare? Then try to make the unique one, for example, in term of shape of the 'brochure'. In my participation in Startup Asia Expo, me & NoLimit team crafted a set of plastic arm band - which looked like watches. Mmm not real plastic actually, they were laminated papers :)


Visitors (especially women) will wear it with excitement as they consider it as a part of fashion item (maybe). As they carry it everywhere, people will start to recognise 'the band' and if yours is catchy enough, the 'influenced audience' will find a way to your stand!

#3 The Information Kit - Company Profile and Flyer
If A4 Company Profile book is too big, you may switch to the A5 one.

Flyer, company profile, and name card for IT World Show 2013 
For the flyer, I was inspired by a flyer format that I found online (I forgot the source). The concept is to guide visitor to learn about our company in a defined storyline (while getting their attention as well). In this case, I wanted them to unfold several parts of the paper to reveal the next information thoroughly. Well, although I can't say that this one is a perfect design, because some people looked confused after grabbing the flyer, but it worked quiet well for younger group of people.

Only 2 folding movements needed to discover all contained information!

Tips : Match your stand's giveaway with the expo's target visitor. Sometimes candies are better than too advanced exhibition kit ;)